Posted in My Life

Mimpi yang Terpendam

Setelah sekitar 4 tahun menetap di bagian pengadaan, pada pertengahan tahun 2019, saya dimutasi ke bidang lain. Agak ketar-ketir juga waktu tau saya ditempatkan di bidang niaga.. karena saya merasa sama sekali gak ada bakat di bidang marketing. Tapi alhamdulillah ternyata di sub bidang Revenue Assurance di mana saya ditempatkan itu lebih konsen ke akurasi data, jadi kerjaan rutin saya download data dan menyiapkan laporan setiap bulan. Tapii… bukan juga mudah ya, karena dihitung-hitung ada belasan laporan yang harus dikerjakan. Dengan dukungan dari rekan-rekan sekitar, Alhamdulillah saya bisa segera adaptasi tanpa kesulitan berarti.

Nah, di saat itu juga, sekitar akhir bulan Agustus 2019, ternyata suami saya dengan beberapa rekan kerjanya nyoba ikut rekrutmen tenaga berpengalaman untuk Qatar Petrochemical Company (Qapco) yang dilaksanakan oleh perusahaan konsultan dari India. Tes tertulis dan wawancara dilaksanakan selama 2 hari di Mandarin Oriental Hotel, Jakarta. Wow, Qatar? Saya yakin kami sepakat, seandainya suami saya lulus dan pindah kerja ke Qatar, tinggal berjauhan bukanlah pilihan. Cukuplah setahun kami menjalani Long Distance Relationship dan 3 tahun Long Distance Marriage, kami gak akan mengulang kondisi itu lagi, apalagi dengan sekarang sudah punya anak. Jadi kalau memang lulus, saya akan ikut tinggal di sana, entah dengan cuti tanpa tanggungan dulu atau langsung resign. Sungguh, gak pernah terpikir dalam benak saya untuk tinggal di salah satu negara timur tengah, tapi melihat kesempatan ini saya kok jadi kepingin juga ya? Duluu… memang saya pernah bermimpi untuk tinggal di luar negeri, tapi bayangan saya itu ya negara dengan empat musim, di mana saya bisa melihat dan merasakan suasana bersalju yang mustahil bisa ada di Indonesia. Saya juga sempet ada keinginan untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. Tapi, jalan kehidupan yang membawa saya pada pekerjaan, menikah, lalu punya anak,akhirnya mimpi itu hanya tinggal mimpi bagi saya.. terpendam dalam-dalam tanpa ada kesempatan untuk diwujudkan. Dan kini… suami saya membangkitkan mimpi itu lagi, walau bukan negara empat musim, malah negara timur tengah yang sejatinya adalah gurun, tapi bayangan tentang negara maju dan modern yang kental dengan norma dan budaya Islam juga membuat saya antusias. Walaupun, ya… rasa takut juga ada, karena sama sekali gak ada keluarga yang tinggal di sana. Sanggupkah saya mengurus dua anak yang salah satunya berkebutuhan khusus, di negara yang benar-benar asing?? Tapi itulah tantangannya, di mana adalah suatu keharusan untuk mengenal dan menjalin hubungan baik dengan tetangga yang bisa berasal dari bangsa manapun.

Continue reading “Mimpi yang Terpendam”

Posted in My Life

Hamil di Luar Kandungan

Pada akhir bulan September 2018, kantor kami menyelenggarakan Employee Gathering ke daerah Bogor. Acara ini diwajibkan bagi pegawai, bila tidak ikut harus ada alasan yang dapat diterima. Kondisi saya agak membingungkan sebenarnya… sebab saya punya 2 anak yang masih balita dan pastinya agak repot kalau ditinggal, tapi keduanya juga sudah berusia lebih dari 2 tahun yang berarti gak repot-repot amat juga kalau dititipkan selama 3 hari weekend acara tersebut. Saya tanya sama suami gimana sebaiknya, dan dia bilang ikut aja kalau memang mau ikut. Ya sudah, saya pun mendaftar untuk ikut.

Tapi… 4 hari sebelum tanggal keberangkatan, saya telat menstruasi sekitar 5 hari. Galau lah saya, kira-kira saya hamil gak ya?

Continue reading “Hamil di Luar Kandungan”

Posted in My Life

Dilema Ibu Bekerja

Sejak awal tahun 2018, Naufal mulai rutin terapi di Bina Autis Mandiri (BAM). Sebulan pertama observasi, terapinya 3 kali seminggu masing-masing 2 jam. Bulan berikutnya baru akan ditentukan apakah perlu penyesuaian jadwal. Oiya, untuk penanganan autis biasanya ada 3 macam terapi, yaitu Sensori Integrasi (SI), Terapi Okupasi (OT), dan Terapi Wicara (TW). Kata dokter sih harusnya dilancarkan dulu SI dan OT baru dilanjutkan TW.. tapi karena di BAM ini semua bisa 1 paket ya udah kami pikir sekalian aja. Setelah lewat 1 bulan, dokter di tempat terapi menyarankan tambah jadwal jadi 4 kali seminggu. Jadinya pas aja sih, suami saya yg kerja shift dalam seminggu ada 1-2 hari jadwal kerja pagi yang berarti gak bisa nganter jemput Naufal. Saya juga yang gak bisa bawa kendaraan, lumayan repot kalau harus antar jemput Naufal dari kantor dengan transportasi online. Karena jadwal Naufal yang 4 kali seminggu, bisa pilih hari apa saja dari Senin-Sabtu yang suami saya dapat shift selain pagi. Setiap akhir pekan suami saya ngabarin bagian administrasi BAM buat nentuin minggu depan Naufal terapinya hari apa aja. Suami saya pilih jadwal jam 10-12 siang, tapi klo sesekali ambil jam 8 pagi juga bisa. Klo mendadak ngubah jadwal, harus konfirmasi dulu juga, karena bisa jadi untuk jam itu sudah penuh yg ikut terapi, disesuaikan dengan jumlah terapisnya.

Kami pun settle dengan pola ini, sambil terus memantau perkembangan Naufal tentunya.

Continue reading “Dilema Ibu Bekerja”

Posted in My Life

Skyfall

Woww… ternyata udah 2 tahun aja ini blog gak update-update. Padahal bukannya gak ada cerita sih, justru 2 tahun ini saya mengalami bittersweet of life, jatuh bangun jungkir balik luar biasa pokoknya. Tapi tiap kali mau ditulis kok rasanya gimanaa gitu ya, gak ada mood dan rasa kepengen yg kuat buat cerita, jadinya ya udah, 2 tahun vakum.

Dan sekarang, mumpung lagi ada niat buat nulis kayaknya dikejerin aja deh ya..

Here we go.

Continue reading “Skyfall”

Posted in Review

Tentang Dilan dan Milea

dyllan_20180202_155204

Sungguh, sebelum nonton, saya sama sekali gak pernah tertarik baca novelnya juga ulasan ataupun berita-berita tentang pembuatan film ini. Walau sudah lama saya lihat novel serial ini wara-wiri di google play book sebagai bacaan recommended dilihat dari jenis buku-buku yg sudah saya beli dan baca, tapi sedikitpun saya gak tertarik. Apa mungkin karena covernya kurang menarik menurut saya ya? soalnya saya lebih suka cover yg lucu-lucu tampilannya 😄 (emang dasar gak pernah ngikutin slogan “don’t judge a book by its cover”) .

Saya jadi tertarik dan penasaran saat baca sedikit review dari temen di group whatsapp komunitas blogger wongkito. Bahwa katanya film Dilan yg baru saja mulai tayang di bioskop itu bagus. Bahwa Iqbaal CJR (what? CJR alias cowboy junior boyband abege yg dulu unyu-unyu itu?) Yang sebelumnya dianggap gak cocok perankan Dilan ternyata mampu membawakan karakter Dilan dengan pas, termasuk saat adegan berantem. Bahwa film ini berhasil menggambarkan suasana kota Bandung di tahun 1990. Bahwa film ini cocok ditonton anak zaman now dan yg ingin mengenang tahun 90-an. Dan yg ngasih review itu cowok pula. Hasil review yg bagus dari cowok utk film Indonesia bertema cinta remaja, tentunya sudah luar biasa. Saya bener-bener penasaran.
Kemudian ada kesempatan nonton bareng temen-temen, jadilah saya nonton. Dan ternyata saya setuju, film ‘Dilan 1990’ ini bener-bener bagus. Sudah lama saya menantikan film Indonesia tentang anak muda yang sebagus Ada Apa dengan Cinta, dan sepertinya Dilan jawabannya. Semoga sekuelnya nanti akan tetap sebagus yg pertama ini.

Continue reading “Tentang Dilan dan Milea”