Posted in Review

Tentang Dilan dan Milea

dyllan_20180202_155204

Sungguh, sebelum nonton, saya sama sekali gak pernah tertarik baca novelnya juga ulasan ataupun berita-berita tentang pembuatan film ini. Walau sudah lama saya lihat novel serial ini wara-wiri di google play book sebagai bacaan recommended dilihat dari jenis buku-buku yg sudah saya beli dan baca, tapi sedikitpun saya gak tertarik. Apa mungkin karena covernya kurang menarik menurut saya ya? soalnya saya lebih suka cover yg lucu-lucu tampilannya 😄 (emang dasar gak pernah ngikutin slogan “don’t judge a book by its cover”) .

Saya jadi tertarik dan penasaran saat baca sedikit review dari temen di group whatsapp komunitas blogger wongkito. Bahwa katanya film Dilan yg baru saja mulai tayang di bioskop itu bagus. Bahwa Iqbaal CJR (what? CJR alias cowboy junior boyband abege yg dulu unyu-unyu itu?) Yang sebelumnya dianggap gak cocok perankan Dilan ternyata mampu membawakan karakter Dilan dengan pas, termasuk saat adegan berantem. Bahwa film ini berhasil menggambarkan suasana kota Bandung di tahun 1990. Bahwa film ini cocok ditonton anak zaman now dan yg ingin mengenang tahun 90-an. Dan yg ngasih review itu cowok pula. Hasil review yg bagus dari cowok utk film Indonesia bertema cinta remaja, tentunya sudah luar biasa. Saya bener-bener penasaran.
Kemudian ada kesempatan nonton bareng temen-temen kantor, jadilah saya nonton. Dan ternyata saya setuju, film ‘Dilan 1990’ ini bener-bener bagus. Sudah lama saya menantikan film Indonesia tentang anak muda yang sebagus Ada Apa dengan Cinta, dan sepertinya Dilan jawabannya. Semoga sekuelnya nanti akan tetap sebagus yg pertama ini.

Continue reading “Tentang Dilan dan Milea”

Advertisements
Posted in Review

Flipped (2010)

Saya pertama kali nonton film ini sekitar tahun 2011 kayaknya, dan sampe sekarang film ini masih menjadi salah satu film favorit yang saya gak keberatan ngulang nontonnya sampe beberapa kali. Ceritanya sederhana, bener-bener film keluarga yang mungkin untuk tayang di TV lokal Indonesia pun gak perlu sensor (tapi tetap rating PG untuk remaja ya). Temanya memang tentang cinta monyet ala ABG, tapi jauh dari kesan alay. Banyak pesan moral tersirat dari film ini, disampaikan dengan alur cerita yang gak ngebosenin.

Diadaptasi dari novel karya Wendelin Van Draanen berjudul sama, ‘Flipped’ artinya ‘Terbalik’, bisa juga berarti ‘Terkesima’. Bersetting di Amerika pada tahun 1957 hingga 1963, film ini mengunakan alur maju-mundur dengan dua sudut pandang yaitu dari sisi kedua tokoh utamanya.

Juliana Baker atau yang lebih sering dipanggil Juli, adalah gadis manis yang periang. Saat berusia tujuh tahun, ia langsung terpesona pada Bryce Loski yang baru pindah menjadi tetangga depan rumahnya. Kebalikan dengan Juli, Bryce Loski adalah pemuda yang pendiam. Ia sangat terganggu dengan kehadiran Juli yang terkesan mengejar-ngejar dirinya. Menurutnya Juli adalah gadis yang keras kepala dan egois. Bertahun-tahun menjadi tetangga dan teman sekelas tapi ia terus berusaha menghindari Juli, sampai-sampai saat kelas 6 SD ia mengencani Sherry Stalls, gadis paling populer di sekolah yang sangat tidak disukai oleh Juli, hanya untuk membuat Juli kesal. Tapi tujuannya itu ternyata diketahui oleh Sherry dan akhirnya mereka putus. Juli pun kembali mengagumi Bryce, pemuda tampan bermata indah dan berambut pirang dengan aroma semangka,  yang menurutnya sangat bersinar. Terus tak berubah hingga mereka kelas 2 SMP.

Continue reading “Flipped (2010)”

Posted in Review

How I Met Your Mother (2005-2014)

How I Met Your Mother (HIMYM) bisa dibilang adalah serial sitcom barat terfavorit saya hingga saat ini. Mulanya saya dengar tentang serial ini dari suami saya (waktu itu masih calon), dia bilang bagus banget, banyak joke dan bahasan tentang cowok yang ‘kena’ banget, tapi bukan berarti ini film buat cowok, tentang cewek juga banyak. Karena penasaran saya cobain lah nonton. Waktu itu sekitar tahun 2009 yang berarti filmnya udah jalan sekitar 4 season. Pertama nonton saya habisin dulu season 1,dan awal-awal nonton itu saya agak bored nontonnya, gak tau kenapa, mungkin karena waktu itu selera saya masih drama korea aja 😀 . Habis itu belum lanjut nonton lagi karena memang gak ada DVD-nya.
Sekitar setahun kemudian,setelah menikah saya mulai kenal TV berlangganan dari suami saya dan mulai terbiasa nonton film-film barat, termasuk HIMYM yang sesekali tayang di Starworld. Tiba-tiba saya ketagihan nonton serial ini dan nunggu-nunggu setiap tayangannya, walaupun episodenya totally gak berurutan. Kalo gak salah mulai ditayangin berurutan itu sejak season 7 sampe serial ini tamat di season 9.

Continue reading “How I Met Your Mother (2005-2014)”

Posted in Review

13 Going on 30 (2004)

13goingon30

Waktu lihat judulnya, saya langsung berpikir ini kayaknya versi asli dari sinetron yang dulu pernah diputer di TV, yang pemerannya Nafa Urbach sama Angel Karamoy. Di sinetron itu ceritanya Nafa Urbach yang umur 30 tahun, bertukar tubuh dengan Angel Karamoy yang umur 13 tahun. Idenya kan lumayan unik tuh, … tapi namanya sinetron memang suka manjang-manjangin cerita n lebay sih, jadinya gak seru lagi.

Nah, film ’13 Going on 30′ (atau dikenal juga dengan judul ‘Suddenly 30’) ini baru sempat saya tonton waktu layanan TV kabel di kosan tiba-tiba membuka saluran khusus film yang termasuk dalam paket box office (terdiri dari RED, Fox Family Movies, Fox Movies Premium, HBO, HBO Family, HBO Signature, HBO Hits, Cinemax, dan MGM Movies). Hohoho… senengnya bukan kepalang waktu itu, soalnya saya gak berlangganan paket itu sebenernya, entah kenapa kok dibuka. Tapi ya… cuma 1-2 bulan aja sih, mungkin dalam rangka promosi atau apa. Film ini klo gak salah hadir di HBO Family, mungkin karena masuk genre komedi romantis ya, dan kategori remaja (PG-13).

Ceritanya, Jenna Rink (Christa B Allen) seorang gadis SMP yang punya sahabat sejak kecil cowok tambun bernama Matt Flamhaff(Sean Marquette), mulai jenuh dengan kehidupan yang berjalan tak sesuai dengan keinginannya. Ia iri dengan cewek-cewek cantik dan populer di sekolah,dan ia tak kunjung juga berkesempatan mendekati pemuda pujaannya. Meski sebenarnya Matt sangat perhatian padanya,ia tak peduli karena bukan itu yang diinginkannya. Hingga puncaknya pada acara ulang tahun yang ke-13 di rumahnya, ia di-bully oleh teman-teman sekolahnya yang cantik, dan kehadiran Matt yang membawa hadiah rumah boneka dan bubuk ajaib mainan justru menambah kacau semuanya. Ia lalu mengurung diri di lemari, berharap ia segera menjadi dewasa dan menarik. Ternyata, bubuk ajaib (semacam debu peri) hadiah dari Matt itu memang benar-benar ajaib…

Continue reading “13 Going on 30 (2004)”

Posted in Review

Serba-Serbi Film 3D

shrek-4 3d movieSeperti yang pernah saya sebutkan sebelumnya di review film How to Train Your Dragon, saya adalah salah satu penggemar film yang antusias dengan hadirnya film 3D di bioskop.
Saya dengar sebagian orang ada yang gak suka nonton film 3D karena malah bikin pusing katanya. Tapi buat saya, rugi rasanya klo gak nonton film yang versi 3D, apalagi untuk film-film yang bakal masuk box office kayak Transformers, The Avengers, Spiderman, dan animasi produksi Disney atau Dreamwork.

Pertama kali saya dibuat tercengang oleh teknologi 3D ini pada film Avatar. Film itu benar-benar maksimal menyajikan efek 3D-nya, sangat detil sampai pada layar komputer dan foto-foto yang ditempel di dinding sekalipun (padahal logikanya foto itu harusnya terlihat 2 dimensi kan ya? 😀 ). Lalu yang cukup memukau juga antara lain film Tron Legacy, Transformers: Dark of The Moon, Men in Black 3, The Avengers, dan The Amazing Spiderman. Sementara untuk film-film animasi 3D umumnya memuaskan, seperti Up, Toy Story 3, How to Train Your Dragon, Despicable Me, Megamind, Gnomeo and Juliet, dan Shrek Forever After.
Tapi ada juga film 3D yang mengecewakan karena efeknya (dan mungkin juga dari segi cerita) yang kurang maksimal, seperti Alice in Wonderland, The Last Airbender, dan John Carter.
Continue reading “Serba-Serbi Film 3D”