Posted in My Life

Hamil di Luar Kandungan

Pada akhir bulan September 2018, kantor kami menyelenggarakan Employee Gathering ke daerah Bogor. Acara ini diwajibkan bagi pegawai, bila tidak ikut harus ada alasan yang dapat diterima. Kondisi saya agak membingungkan sebenarnya… sebab saya punya 2 anak yang masih balita dan pastinya agak repot kalau ditinggal, tapi keduanya juga sudah berusia lebih dari 2 tahun yang berarti gak repot-repot amat juga kalau dititipkan selama 3 hari weekend acara tersebut. Saya tanya sama suami gimana sebaiknya, dan dia bilang ikut aja kalau memang mau ikut. Ya sudah, saya pun mendaftar untuk ikut.

Tapi… 4 hari sebelum tanggal keberangkatan, saya telat menstruasi sekitar 5 hari. Galau lah saya, kira-kira saya hamil gak ya?

Saya coba test pack 2 kali hasilnya negatif, lalu saya periksa ke dokter kandungan di RS Siloam, katanya di USG belum kelihatan apa-apa.. mungkin memang negatif, mungkin juga positif tapi masih terlalu kecil, baiknya periksa lagi 1-2 minggu kemudian. Duh, gimana dong? kalau ternyata positif, kan berisiko juga saya naik pesawat dan ikut acara gathering yang lumayan bikin capek.
Maka, demi meyakinkan keputusan saya jadi ikut gathering atau nggak, saya coba tes kadar hormon hCG di lab PRAMITA sekalian. Nggak nyangka sih biayanya ternyata mahall.. tapi ya sudahlah gak apa-apa, daripada saya terlanjur berangkat dan ternyata saya hamil.
Hasil tesnya sih sudah bisa diambil hari itu sorenya, tapi saya gak sempet ke lab lagi dan berencana ngambil hasil besoknya. Dan ternyata saudara-saudara… besoknya itu saya mens. Haish, sia-sialah itu tes kadar hormon pikir saya. Jadinya saya gak berusaha nyempetin ngambil hasil tesnya, dan berangkatlah saya ikut acara gathering di Bogor 3 hari kemudian.

Pulang dari Bogor, menstruasinya sudah selesai, saya pun baru sempet ngambil hasil tesnya. Dan apa yang saya lihat bener-bener bikin saya bingung plus kaget. Hormon hCG saya positif dan angkanya lumayan… menunjukkan kehamilan beberapa minggu. Ditambah pula, saat itu sudah beberapa hari sejak saya selesai mens, tapi ada sedikit nge-flek bercak darah kecoklatan yang keluar diiringi sedikit nyeri di perut sebelah kanan bawah. Saya pun baca-baca di internet tentang fenomena ini, dan saya khawatir saya mengalami Kehamilan Ektopik (KE) alias hamil di luar kandungan. Penanggulangan untuk KE ini adalah operasi pengangkatan janin yang gak bisa tumbuh karena nempel di tempat selain rahim, biasanya di saluran tuba valopi.. dan otomatis saluran tuba itu akan dipotong sehingga gak berfungsi lagi. Lumayan ngeri kan? Yang agak aneh memang kenapa seminggu lalu itu saya mens, tapi saya coba test pack sekali lagi hasilnya bener 2 garis merah terang, dan ada flek serta sedikit rasa nyeri di perut sebelah kanan bawah, itu termasuk gejala KE. Langsunglah saya periksa lagi ke dokter kandungan. Begitu di USG ternyata masih kosong juga kelihatannya… ternyata dokter tersebut yang kebetulan ahli fetomaternal curiga juga saya KE. Maka saya dirujuk untuk cek kadar hormon hCG lagi, untuk memastikan kadar hormonnya sudah setara kehamilan berapa minggu. Kalau memang sudah sekitar 7 minggu, dihitung dari mens terakhir saya sebulan yang lalu, berarti harus dicari di mana janinnya kenapa gak kelihatan di USG. Ya sudah, kali ini tes darah langsung di RS Siloam.

Besoknya hasilnya keluar, dan ternyata bener kadar hormon hCG saya mencapai kehamilan sekitar 7 minggu. Nah, masalahnya, dokter yang kemarin nyuruh saya periksa kadar hormon itu cuti lama sampai 2-3 minggu, bingunglah saya nyari dokter lain lagi yang cocok, karena dokter yang meriksa saya seminggu yang lalu yang biasa direkomendasikan temen-temen, sudah duluan cutinya.
Sekitar 2 hari mikir-mikir mau ke dokter mana lagi, tiba-tiba pendarahan yang sebelumnya cuma nge-flek kecoklatan berganti agak banyak dan merah segar. Saya pun segera ke IGD RS Siloam. Karena gak tau mau pilih dokter kandungan yang mana, saya terima dokter kandungan yang sedang jaga untuk menangani saya. Di luar dugaan, karena melihat riwayat saya menstruasi baru sekitar seminggu yang lalu, ditambah lagi gak ada keluhan sakit yang berlebihan di perut, dokter tersebut menyimpulkan saya gak KE, malah beliau meragukan hasil lab yang menunjukkan saya hamil. Menurut beliau juga pendarahan saya masih tergolong sedikit.. jadi saya disuruh pulang dulu, kalau memang nanti pendarahan lebih banyak dan/atau lebih sakit baru datang lagi ke RS.

Duh, saya semakin bingung jadinya. Memang sih saya gak merasa sakit yang berlebihan, mungkin salah kalau buru-buru ngambil tindakan operasi padahal belum pasti KE. Tapi keluar darah segar itu apa gak mengkhawatirkan? Sementara saya tau dari baca-baca, kalau KE sudah menjadi KET (Kehamilan Ektopik Terganggu) dikarenakan saluran tuba valopi yang pecah, maka nyawa bisa jadi taruhannya.

Besoknya, saya tetep ngantor seperti biasa. Tapi walau rasa sakit gak bertambah, pendarahannya semakin banyak. Saya pun memutuskan periksa ke dokter ahli fetomaternal lain yang saya tau, tapi dokter ini gak praktek di RS Siloam, jadi saya ke klinik tempat prakteknya yang agak jauh dari RS Siloam. Jadwal prakteknya mulai maghrib, jadinya saya dan suami baru pergi ke sana setelah sholat maghrib. Karena khawatir macet, suami nganter saya saat itu naik motor. Nyampe di sana ternyata ngantri lumayan lama, jadinya sekitar jam 20.30 saya baru dipanggil. Setelah cerita panjang lebar keluhannya, saya diperiksa dengan USG transvaginal. Ternyata, dokter ini malah memperkirakan saluran tuba saya sudah pecah karena KET. Pendarahan saya sudah banyak, dan kalau memang sekarang belum sakit, ya sebentar lagi juga bakalan terasa sakit, katanya. Beliau bilang saya harus operasi malam itu juga, dan kalau di RS Siloam beliau merekomendasikan Dr.Irawan,Spog untuk menjalankan operasinya. Di RS Hermina juga ada yg beliau rekomendasikan tapi saya lupa siapa. Beliau sendiri belum mampu menjalankan operasi KET, walau beliau praktek di RS Hermina. Saat mendengar itu, saya sudah mulai merasa pusing,mual,pokoknya gak enak seluruh badan. Dokter bilang itu karena saya shock denger penjelasannya. Padahal nggak sih, saya sudah banyak baca-baca dan sudah siap dengan kemungkinan itu. Tapi setelah USG transvaginal yg terasa cukup keras menekan bagian dalam perut saya itu baru saya merasa gak enak, padahal sebelumnya saya merasa baik-baik saja. Saya jadi berpikir, jangan-jangan sebenernya USG tadi itu yg memicu saluran tuba saya pecah.

Ya sudahlah, kami pun bersiap untuk ke RS. Masalahnya, kami pergi tadi naik motor, sementara saya sudah merasa terlalu lemah untuk duduk atau berdiri, khawatir gak stabil dibonceng motor. Suami sempet nanyain saya mau ke RS Siloam atau Hermina.. saya bilang saya sudah gak sanggup mikir, saya serahkan keputusan padanya. Sementara itu, klinik tersebut sudah mau tutup pula karena sudah lewat jam 9 malam, jadi saya yang numpang tiduran di sofa harus keluar, karena ruko mau dikunci katanya. Saya pun terpaksa keluar dan cuma bisa duduk di bangku kecil tanpa sandaran yang ada di depan ruko. Suami saya sudah memutuskan mau ke RS Siloam, dan dia sudah ngehubungi temennya yg tinggal di dekat situ untuk minjem mobil. Alhamdulillah gak lama kemudian mobilnya datang, dan saya bisa tiduran di mobil sementara suami membawa saya ke RS.

Sepanjang jalan ke RS, saya terus berdzikir dan berdo’a, ucap syahadat dan istighfar sebanyak-banyaknya. Malam itu saya bakal menjalani lagi near death experience, kalau dihitung itu adalah yg kelima kalinya setelah operasi pengangkatan tumor payudara, operasi cesar anak pertama, reaksi alergi obat saat hamil kedua yg membuat saya dirawat di ICU, dan operasi cesar anak kedua.

Tiba di RS, saya langsung dibawa ke UGD. Setelah menjelaskan kondisi saya pada dokter jaga dan perawat, kami pun menunggu sementara mereka ngehubungi dr.Irawan. Saat itu suami saya ngabarin keluarga soal kondisi saya. Kemudian saya mulai merasakan semua gejala KET yang sudah saya tau dari baca-baca. Rasa sakit dan gak nyaman terasa di mana-mana. Di perut terasa kontraksi mirip kayak mau lahiran tapi lebih gak enak lagi, dan di puncak tiap kontraksi itu saya muntah. Karena memang saya belum makan malam, jadi yang keluar cuma cairan berwarna kehijauan. Kemudian dokter jaga ngabarin kalau dr.Irawan sudah dihubungi, dan beliau akan mengoperasi saya sekitar jam 12 malam. Saya lihat jam dinding.. baru sekitar jam 10 malam. Artinya saya harus menahan kondisi ini selama 2 jam, dan dokter jaga bilang saya harus tetap sadar, gak boleh sampai tertidur. Saya hanya bisa menggenggam tangan suami saya dan istighfar sebanyak-banyaknya, melewati waktu yang seolah berjalan saangat lambat. Kadang saya merasa sangat lelah dan ngantuk hingga tak tertahankan memejamkan mata, tapi dokter jaga selalu memperhatikan dan berseru memanggil saya, memastikan saya tetap terjaga.

Akhirnya, sekitar jam setengah 12 dr.Irawan datang, memeriksa saya sebentar, lalu menunggu saya di ruangan operasi. Sementara saya dipersiapkan untuk operasi oleh perawat, yang ternyata butuh waktu juga karena dibersihkan menyeluruh sebelum dipakaikan baju operasi. Setelah siap, saya pun dibawa ke ruang operasi. Suami saya mengantar sampai depan pintu ruang operasi, dan selanjutnya saya masih sesekali diajak ngobrol oleh paramedis, hingga suntikan bius membuat saya gak sadarkan diri.

Saya lupa waktu sadar saya masih di ruang pemulihan atau sudah di kamar. Yang jelas saya bersyukur Allah masih ngasih saya kesempatan untuk melanjutkan hidup. Dan saya lega, rasa gak nyaman yg tadi saya rasakan terutama di bagian perut sudah hilang.. sekarang tinggal menjalani pemulihan pasca operasinya. Suami saya terus menemani dan memperhatikan saya di kamar, entahlah dia sempat tidur atau nggak. Lalu dia juga yg ngabarin keluarga tentang kondisi terkini saya.

Saya lirik jam dinding, kalo gak salah sudah sekitar jam 3 pagi. Saya baru ingat belum sempat sholat Isya’. Maka saya tayammum sebisanya, lalu melaksanakan sholat dengan isyarat. Sungguh, saya benar-benar lega.

Paginya, dr.Irawan visit dan memeriksa kondisi saya. Alhamdulillah saya baik-baik saja, hanya perlu rawat inap sekitar 4 hari untuk kontrol dan pemulihan. Oiya, operasinya bukan kayak operasi cesar, tapi pakai metode laparoskopi di mana sayatan hanya ada 3 lubang kecil berukuran 1-3 cm. Lewat lubang itulah dimasukkan udara, kamera, dan alat-alat medis untuk melaksanakan operasi pengangkatan janin dan pemotongan saluran tuba yang pecah. Jadi, saluran tuba saya sekarang yang berfungsi tinggal yang sebelah kiri. Dokter juga bilang selama operasi darah saya yang keluar ada sekitar 1 atau 2 liter saya lupa, yang jelas saya sudah ditransfusi darah 2 kantong saat operasi. Selanjutnya selama dirawat juga akan dipantau kondisi darah saya, bila diperlukan akan ditambah darah lagi.

Selanjutnya, saya jalani masa pemulihan di RS dengan rileks. Beberapa temen dan keluarga ada yang besuk silih berganti. Saya juga ternyata perlu nambah darah sekantong lagi.. berarti total ada 3 kantong darah dari pendonor yang ditransfusikan ke tubuh saya. Alhamdulillah.. setelah 4 hari dirawat, saya sudah bisa pulang.

Seminggu kemudian saya kontrol pasca operasi, dan dr.Irawan bilang kondisi saya bagus, bahkan sudah bisa hamil lagi katanya 😅.

Demikianlah, walau KE ada kemungkinan bisa berulang, semoga saya gak perlu mengalami lagi..

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s