Posted in My Life

Selamat, Anda Telah Menjadi Seorang Ibu !

fingersSungguh berjuta rasanya saat mendengar kalimat itu. Haru, lega, excited, dan lain-lain. Semua bercampur aduk ketika saya terbaring di tempat tidur sesaat setelah proses melahirkan. Tapi sebelum itu, mari kita kembali ke sehari sebelumnya…

Siang itu hari Minggu tanggal 9 Februari 2014 tepat di usia kehamilan 38 minggu, ada keluar sejumlah lendir bercampur flek kemerahan. Teringat pesan dari dr.Peby,SpOG saat terakhir kontrol di usia kehamilan 37 minggu, “Kalau ada keluar flek atau cairan bening, segera ke rumah sakit ya”. Hmm… berarti sudah tanda-tanda akan melahirkan, ya? Tapi kata orang, kalau mau melahirkan itu biasanya sudah terasa sakit atau mules-mules, sedangkan ini saya belum merasa apa-apa. Saya pun nyantai aja, tapi kadang masih kepikiran juga. Maka sorenya saya tanya mama yang pensiunan bidan, apa sebaiknya saya langsung ke RS atau nunggu mules-mules dulu. Menurut mama, keluarnya flek itu memang sudah tanda-tanda dan bisa ke RS,tapi belum bakal melahirkan dalam waktu dekat klo masih belum mules-mules, jadi kayaknya gak apa-apa juga klo saya mau nunggu mulesnya dulu. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya pilih ngikutin pesen dokter. Setidaknya untuk jaga-jaga kalau ternyata persalinan sudah dekat, kalau ternyata masih lama ya kan bisa pulang dulu. Dan saya beserta suami ditemenin mama malam itu juga ke RS Hermina Palembang.

Sampai di UGD, saya disambut oleh bidan yang langsung menyiapkan kursi roda untuk membawa saya ke ruang persalinan di lantai 2. Wuih, ruang persalinan? naik kursi roda? kok kayaknya udah bener-bener mau lahiran ya? padahal saya masih biasa aja, paling ada mules-mules dikiiit banget, dan jelas masih kuat jalan. Haha… kayaknya kursi roda itu cuma untuk menegaskan kalau saya adalah pasien. Sampai di ruang bersalin, saya berbaring sambil ditanya-tanyai. Kemudian saya diminta nunggu sementara dr.Peby dipanggil. Sementara itu juga Ibu dan ayah mertua saya yang baru dikabari ikut datang ke RS.
Gak berapa lama, dokternya pun datang. Setelah nanya-nanya lagi sedikit, dokternya langsung periksa, dan ternyataa… saya sudah bukaan 2. “Gak usah pulang-pulang lagi dulu ya…” katanya. Haduh, deg-degan pun bertambah. This is it! Saya akan segera mengalami sesuatu yang bernama ‘Melahirkan’!

Katanya, kalau bukaannya lancar, saya akan melahirkan sekitar jam 5 pagi besok. Tapi ini mulesnya masih jarang, kemungkinan masih agak lama. Dr.Peby pamit hendak berangkat ke luar kota besok, jadi katanya nanti digantikan oleh Dr.Fatma.

Sepanjang malam itu beberapa kali dilakukan rekam jantung bayi. Saya juga mungkin karena cukup tegang, tidur jadi kurang nyenyak. Tapi sampai pagi mules-mulesnya gak menunjukkan penambahan yang signifikan, kayaknya alamat bukaan belum nambah banyak nih. Dan waktu diperiksa lagi oleh bidan… bukaannya belum nambah,masih bukaan 2.
Beberapa waktu kemudian Dr.fatma datang,setelah nanya-nanya sebentar beliau langsung meriksa lagi. Masih bukaan 2. Dokter pun menyarankan diberi obat supaya mulesnya bagus dan bukaannya cepet (dengan kata lain : induksi). Awalnya mau langsung dikasih yg dari infus, tapi berubah pikiran jadi nyoba obat yang dimasukin aja dulu. Okelah kalo begitu. Setelah dimasukin obat, baru terasa mulesnya bertambah. Tapi kayaknya sih memang masih bisa ditahan sakitnya. Mama juga bilang klo baru bukaan segitu tuh belum apa-apa sakitnya. Siang saya tetep bisa makan cukup, sampai diperiksa lagi oleh bidan. Masih juga bukaan 2. Bidan menghubungi dokter untuk langkah selanjutnya, dan dokter menyarankan dimasukkan obat lagi yang lebih kuat efeknya. Baiklah. Mulesnya pun bertambah lagi, tapi tidak dengan bukaan.

Sorenya kebetulan jadwal praktek Dr.Fatma, jadi saya diperiksa lagi dengan USG. Saat itu, barulah saya merasa perlu dibawa dengan kursi roda😀 . Hasilnya kondisi kehamilan baik-baik saja : plasenta gak menghalangi jalan lahir, air ketuban belum pecah, bayinya gak terlilit tali pusar, dan kepala bayi sudah masuk panggul (artinya InsyaAllah panggul cukup luas). Karena bukaan belum nambah juga, akhirnya dokter menyarankan diinduksi dari infus sebagai langkah terakhir untuk menuju proses persalinan normal. Katanya akan dipantau terus kondisi bayinya setiap jam, kalau detak jantung tinggi, kemungkinan bayinya gak kuat dan induksi akan dihentikan.
Well, saya pun menyiapkan diri untuk mules-mules yang lebih kuat lagi. Dan ternyata, rasa sakitnya mulai mencapai puncak yang bisa saya tahan. Saya pernah dengar katanya diinduksi memang lebih sakit, tapi meski sudah begini kayaknya saya masih gak pantas mengeluh. “Ini masih belum seberapa, kalau sudah saatnya nanti baru bener-bener sakit” gitu kata mama, yg diamini juga oleh bidan yang selalu ngecek kondisi saya. “Sakitnya bertambah lagi ya? Tapi masih bisa ditahan kan?” gitu katanya. Memang sakitnya masih hilang-timbul, tapi saat puncak kontraksi itu saya harus merapatkan gigi atau sampai menggenggam selimut untuk menahan sakitnya. Jam 6 sore obat disuntikkan ke infus, waktu seperti sudah berlalu sangat lama dan saya melirik jam, ternyata masih jam 7. Saat makanan datang, saya gak ada nafsu makan sama sekali. Apalagi waktu dicoba makan, perut menolak untuk menelan bahkan seperti mendorong keluar lagi makanan saat kontraksi. Jadi saya harus memilih saat yang tepat untuk menelan makanan. Akhirnya dengan disuapi saya hanya bisa menelan 2-3 sendok nasi. Dengan bukaan yang masih kecil yaitu bukaan dua, kalau lancar saya baru akan melahirkan sekitar pukul 11.00 malam. Tapi dengan kondisi ini, saya bahkan sampai bilang, “kayaknya saya gak sanggup klo begini sampe jam 11 malem…” tapi ini harus saya hadapi.
Sementara merekam denyut jantung bayi, bidan berpesan bahwa saya harus memotivasi diri, bahwa setiap kali sakitnya datang, itu tandanya bayi saya sedang mencari jalan untuk keluar, jadi jangan dipikirin sakitnya. Hahah, iya… dengan dibilang bahwa ini belum seberapa pun saya sudah merasa keciiil banget, gak pantas mengeluh. Tapi ampuni hamba, Tuhan… ini sungguh sakit.

Kemudian karena mau disiapkan tenaga untuk persalinan normal, suami saya masih nyuruh makan. Saat itu saya merasa kontraksi sudah semakin sering dan panjang, saya bilang saya gak bisa makan, klo dipaksain nanti saya bisa muntah. Tapi katanya dicobain aja dulu, saya sampai dibeliin roti yang enak dan susu UHT, supaya enak jg makannya. Malah dia minta dibikinin susu sama perawat, dan dikasih susu coklat yg anget. Susu berhasil saya minum beberapa teguk, tapi begitu nyoba makan roti,karena kurang bisa menyesuaikan saat menelan dengan jeda kontraksi, saya pun muntah dengan sukses. Nasi sedikit yang sudah dimakan tadi pun ikut keluar. Dan saya menyerah untuk makan lagi.

Beberapa kali direkam, sepertinya denyut jantung bayi saya mengalami peningkatan kecepatan. Sementara bukaan hanya bertambah sedikiiit saja, dari bukaan 2 sempit menjadi bukaan 2 longgar. Sekitar pukul 9 malam bidan menyampaikan hasilnya ke dr.Fatma, lalu dokter menyarankan induksi dihentikan dan segera dilakukan operasi cesar.
Saat itu… entahlah, perasaan saya antara sedikit kecewa karena gak bisa melahirkan normal, tapi juga lega. Benar-benar nyaman rasanya saat induksi infus dihentikan, sakitnya mereda, walau belum benar-benar hilang. Saya pun berganti menyiapkan diri untuk operasi. Yah… bagi sebagian orang operasi justru jadi pilihan utama, tapi bagi saya rasa takut itu tetap ada. Dulu tahun 2010 saya pernah dioperasi pengangkatan tumor payudara, tapi waktu itu biusnya gak sadar, klo ini kan biusnya masih sadar, jadi kayaknya beda aja.
Dalam bayangan saya seandainya memang dari awal diniatkan untuk operasi cesar, tentu saya gak begini lemes dan mules-mules saat dipersiapkan untuk operasi. Mungkin lebih nyaman ya? Makanya banyak yang mau operasi cesar.Tapi tunggu dulu… klo operasi kan, nanti sesudahnya yang sakit berhari-hari bahkan bisa berminggu-minggu. Belum lagi risiko ini-itu karena operasi.
Apapun, inilah sekarang yang harus saya hadapi.

Tiba di ruang operasi, gak menunggu lama saya langsung dibius lokal melalui suntikan di tulang belakang. Rasa kesemutan pun menjalar sampai kaki, dan perlahan tubuh bagian bawah gak bisa digerakkan. Tapi kok jari-jari kaki masih bisa saya gerakin ya? meskipun semua udah kayak kesemutan rasanya. Gak lama Dr.Fatma datang dan memulai operasi bersama asistennya Dr.Khalif. Deg-degan juga karena sampai saat itu saya masih bisa gerakin jari kaki loh, eh tapi saat peralatan operasi menyentuh saya ternyata udah gak berasa sakit sama sekali. Oiya meskipun tubuh bagian atas gak dibius, tapi kedua tangan saya direntangkan ke samping dengan tangan kanan dibalut semacam pengukur tensi yang terus menggembung dan mengempis secara berkala, dan tangan kiri diinfus, jadi gak bisa ngapa-ngapain juga. Sepanjang operasi, saya merasakan suasana yang cukup santai dari paramedis yang menangani. Mereka bekerja sambil ngobrol, bahkan bercanda sampe ketawa-ketawa. Sempat seorang paramedis menanyakan “Gimana rasanya, bu? kayak digoyang-goyang ya?” Iya sih, rasanya perut kayak digoyang-goyang ke sana-sini, mungkin untuk mengeluarkan bayi beserta plasenta dalam selaput berisi air ketuban dari lubang operasi yang sekecil mungkin. Kemudian, yang dinantikan pun tiba… terdengarnya suara bayi. “Nadia, bayinya perempuan…. selamat ya” Kata Dr.Fatma. Saat itu pukul 10.18 malam. Gak lama bayi saya yang sudah dibersihkan dibawakan oleh dokter anak yang menanganinya. Terlihat tubuhnya yang putih mungil seperti dengan mudah digenggam oleh dokter, dan wajahnya yang manis gak berhenti menangis. Setelah disodorkan pipinya untuk dicium, Dokter mencoba memberikan IMD (inisiasi menyusu dini), tapi gak bisa karena kayaknya dia belum siap. Akhirnya dia dibawa lagi oleh dokter, setelah sekali lagi saya cium pipinya. Dan gak lama suaranya gak lagi terdengar, artinya sudah dibawa keluar dari ruang operasi.
Setelah itu dokter menjahit luka operasi, dan Dr.Fatma pamit tanda operasi sudah selesai. Kemudian tinggal satu orang perawat yang membersihkan dan menggantikan pakaian saya, lalu bersama dua perawat lainnya memindahkan saya ke tempat tidur beroda untuk dibawa ke ruang pemulihan.

Gak lama setelah tiba di ruang pemulihan, keluarga saya mulai datang ngucapin selamat, lalu mereka berangsur pulang, tinggal suami saya yang nemenin di ruang itu sampe pagi. Saya pun berusaha untuk tidur, meski gak bisa nyenyak. Bayi saya dirawat di ruang terpisah khusus bayi, katanya sedang dimasukkan dalam kotak seperti inkubator (mungkin semacam penghangat), tapi kondisinya sehat. Hanya saja sejak lahir dia nangis terus, bahkan saat menjelang subuh suami saya melihat, dia masih juga nangis. Paginya saya dipindahkan ke kamar perawatan, baru kemudian bayi saya dibawakan juga ke kamar. Kondisinya sudah bersih habis dimandiin, dan dia tidur pulaaaas banget. Yang membahagiakan juga, ASI saya sudah keluar, jadi bisa langsung menyusui.
Setelah tiga hari dirawat, kami pun diperbolehkan pulang. Sungguh, momen-momen saat itu gak bisa saya lupakan. Sakit tapi bahagia, dan rasanya gak keberatan kalau diulangi lagi.
Yang jelas, kehidupan keluarga kecil kami pun berubah setelah hari itu…

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s