Posted in Miscellaneous

Enam Tingkatan Emosi LDR-ers

Oceans apart day after day
And I slowly go insane
I hear your voice on the line
But it doesn’t stop the pain

If I see you next to never
How can we say forever?

I took for granted, all the times
That I thought would last somehow
I hear the laughter, I taste the tears
But I can’t get near you now

Oh, can’t you see it baby
You’ve got me going crazy

Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you

I wonder how we can survive
This romance
But in the end if I’m with you
I’ll take the chance…

Right Here Waiting – Richard Marx

Kata orang, LDR itu ada susahnya, tapi juga ada enaknya. Ya bener juga sih…
ada perasaan yang gak bisa dilukiskan dengan kata-kata saat detik-detik pertemuan setelah cukup lama terpisah. You’ll never know it untill you’re being separated.
Kemudian khusus untuk saya yang tinggal sendirian di Jakarta, kota besar dengan segala kemegahan dan kelengkapan fasilitasnya ini memberi banyak kesempatan ‘me time’ alias waktu untuk menyendiri dan melakukan hal-hal yang mungkin canggung bila ditemani orang lain. Belanja misalnya, terkadang lebih leluasa kalau belanja sendiri sebab bebas bolak-balik ke sana-kemari tanpa khawatir akan merepotkan orang lain. Meskipun tetap harus berpikir seratus kali sebelum belanja produk fasion, mengingat pentingnya ketersedian ongkos untuk pertemuan berikutnya dengan suami  dan lemari di kamar kos yang sudah penuh sesak. hehehe….
Tapi kalau kebanyakan sendirian, sudah pasti bosan juga. Di saat-saat galau pula, yang paling dibutuhkan adalah perhatian dari pasangan tentunya. Kalau dipikir-pikir, apa yang saya dapat dari blog shelovesmagazine.com memang benar bahwa ada beberapa emosi seperti berikut yang dapat dialami ketika terlibat dalam Hubungan Jarak Jauh atau LDR.

1. Anticipation/ Excitement (berangan-angan dan semangat) : emosi ini khas ketika baru awal-awal berpisah setelah pertemuan yang menggembirakan.

2. Frustration (Frustrasi) : karena dia seperti berpaling setelah cukup waktu berlalu sehingga pasti ada cerita baru atau candaan untuk dibagi, tapi kita belum mendengar tentang hal itu.

3. Denial (Penolakan): mungkin didorong oleh rasa gengsi dan kemandirian, pada tahap ini kita merasa tak membutuhkan dia.

4. Hopelessness (Keputusasaan) : Ketika lama waktu terpisah sudah menghapus seluruh kebahagiaan saat bersama, kita bisa saja mulai meragukan apakah hubungan ini akan berhasil.

5. Anger (Kemarahan) : mungkin pasangan sempat update status Facebook-nya tapi gak sempat balas chattingan whatsapp/bbm. Atau mungkin dia punya sepanjang hari off dari pekerjaan tapi gak sedikitpun menghubungi. Apakah alasan ini dibenarkan atau sama sekali gak beralasan, perasaan marah dalam hubungan jarak jauh memang tak terbantahkan.

6. Joy (Kebahagiaan) : suara khasnya memberi kelegaan bagai gelombang air laut pasang. Semua emosi yang pernah dirasakan seketika tersapu dengan sukacita murni.

[Ibarat mencuci: berbusa, dibilas, dan ulangi lagi].

Yeah… Mengelola perasaan untuk seseorang yang tak bisa kita temui, itu cukup sulit🙂

gambar : tumblr.com, shelovesmagazine.com

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s