Posted in My Life

Long Distance Relationship

Di Zaman sekarang ini, entahlah apakah Long Distance Relationship (LDR) masih menjadi hal yang  langka alias tidak lumrah, mengingat sudah cukup banyak pasangan (setidaknya yang saya kenal) mengalaminya karena tuntutan pekerjaan. Sebagian orang menganggap LDR yang belum terikat pernikahan cenderung akan kandas, umumnya karena masalah komunikasi atau orang ketiga yang lebih dekat. Tapi nyatanya, tak sedikit juga LDR yang mampu bertahan hingga berlanjut ke pernikahan. Contohnya saya sendiri.

Tampaknya memang banyak yang setuju bahwa “Long Distance Relationship is A Bad Idea”, sesuai dengan salah satu episode serial ‘How I Met Your Mother’ season 1. Di mana Ted, si tokoh utama yang tinggal di Manhattan, memutuskan untuk menjalani LDR dengan Victoria, kekasihnya yang pindah ke Jerman. Dikatakan LDR is a bad idea karena begitu membosankannya keseharian Ted selama menjalani LDR dengan hanya berhubungan lewat telepon membicarakan hal itu-itu saja (sedang apa? di mana? sudah makan belum? makan apa? dll), juga karena hubungan itu akhirnya kandas disebabkan perselingkuhan Ted sendiri.

Baiklah, saya rasa sejatinya tak ada pasangan manapun yang mau menjalani LDR. Tapi itu adalah pilihan yang saya dan suami saya coba jalani, karena keadaan yang memaksakan demikian. Suami saya kerja di Pusri Palembang, sementara saya di PLN Jakarta. Setelah menikah, saya gak bisa langsung mengajukan permohonan pindah turut suami karena terikat kontrak untuk tidak minta pindah atau mengundurkan diri selama beberapa tahun pertama. kalau hendak mengundurkan diri, saya harus bayar penalti lumayan besar. Sementara suami saya, bekerja di pabrik yang hanya ada di Palembang, tak ada peluang untuk pindah ke Jakarta kecuali mengundurkan diri.

Berbagai komentar pun didapat dari orang-orang. “aah… Palembang-Jakarta sih deket, naik pesawat cuma 50 menit, tiap minggu juga bisa ketemu.” atau “Waah… klo kayak gitu sih gaji habis cuma buat ongkos doang.” juga “Salut deh sama kalian, bisa ngejalani LDR. Klo aku sih pasti gak sanggup ngejalaninya.” dan yang cukup jarang, “Kenapa gak berhenti aja salah satu? sebenernya gaji salah satu aja cukup kan? yang penting bisa sama-sama…”

Ya…  Mungkin akan beda ceritanya kalau saya yang di Palembang dan suami di Jakarta. Karena di Palembang semua keluarga baik dari pihak saya maupun suami berkumpul, saya tetap bisa tenang karena gak sendirian, terutama kalau seandainya sudah punya momongan. Sedangkan kondisinya adalah, saya yang ngekost di Jakarta. Tinggal sendiri, jauh dari suami, jauh dari keluarga. Walau ada kakak yang juga kerja di Jakarta, tapi  kakak juga sudah berkeluarga dan tempat tinggalnya jauh.

Saat semua itu terasa berat, saya mulai berpikir, mungkin kadangkala untuk mendapatkan suatu kebahagiaan, ada kebahagiaan lain yang harus dikorbankan. Dalam hal ini mungkin salah satu dari kami harus resign untuk bisa mengakhiri LDR secepatnya.
Entahlah, apakah sebaiknya salah satu dari kami mengorbankan perkerjaan? Ataukah memang lebih baik bertahan 1-2 tahun lagi, dengan terus berusaha agar saya bisa pindah ke Palembang?

Semoga, jalan yang kami tempuh nantinya adalah yang terbaik. Demi sakinah, mawaddah, dan rahmah rumah tangga yang sedang kami bina. InsyaAllah…

gambar : shelovesmagazine.com, 3.bp.blogspot.com, fineartamerica.com

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s