Posted in Review

How to Train Your Dragon (2010)

Meski mungkin bagi sebagian orang teknologi 3D untuk film gak begitu menarik, tapi saya termasuk yang cukup antusias dengan hadirnya teknologi ini. Seingat saya, film 3D pertama yang hadir di Jakarta adalah ‘Ice Age 3’, tapi saya gak sempat nonton. Baru saat muncul film ‘Up’ produksi Pixar, saya sempatkan untuk nonton. Dan kesan waktu itu adalah kurang mengerti dialognya karena gak ada teks! haha…
Setelah itu ada ‘Avatar’ yang meski gambarnya menakjubkan tapi masalahnya juga sama, lalu ‘Alice in Wonderland’, dan akhirnya bioskop Indonesia mulai meluncurkan film 3D dengan teks berbahasa Indonesia sejak hadirnya ‘Clash of The Titans’. Kemudian ‘Cats and Dogs : Revenge of Kitty Galore’ ternyata kurang berkesan filmnya.

Hingga saat muncul How to Train Your Dragon, film 3D pertama produksi Dreamworks, saya jadi kurang minat nonton karena gak yakin dengan kualitasnya. Secara, saya sebelumnya lebih banyak dibuat kagum oleh film-film produksi Disney-Pixar daripada Dreamworks, dan Alice in Wonderland yang produksi Disney aja ternyata gak begitu bagus menurut saya. Lagipula, memangnya semua film 3D harus saya tonton semua apa? (mengingat sampai saat itu kayaknya saya gak pernah absen nonton film 3D di bioskop selain ‘Ice Age 3’ :p ).

Tapi my boyfriend (sekarang sudah jadi my husband), suatu hari ngajak jalan ke mall dan karena gak ada pilihan film lain yang bagus akhirnya kami pilih nonton ‘How to Train Your dragon 3D’. Di luar dugaan, ternyata saya dibuat tercengang oleh film ini. Gambarnya bagus, ceritanya kompleks dan menyentuh. Ada tentang perang, keluarga, persahabatan, komedi, roman, petualangan, dan dilema karena pengkhianatan (yang sebenarnya menuju kebaikan). Persis tema dari game-game bergenre RPG. Film seperti inilah yang saya tunggu-tunggu…


Hiccup Horrendous Haddock III (Jay Baruchel) seorang pemuda bangsa Viking gelisah karena sebagai putra dari Stoick the Vast (Gerard Butler), pemimpin desa mereka yang turun-temurun berperang melawan Naga, tidak punya kemampuan untuk melawan makhluk-makhluk aneh yang bisa terbang dan menyemburkan api tersebut. Dan pada suatu hari, saat menemukan seekor naga hitam yang terluka, ia tetap tidak tega membunuh naga tersebut dan malah menolongnya. Naga itu pun diberi makan, diberi sayap buatan pengganti sayapnya yang rusak, dan diberi nama Toothless. Pelan-pelan, ia telah menjadikan naga yang ternyata jenis Night Fury, naga paling berbahaya dari yang ia pelajari dalam buku, sebagai peliharaan yang dapat ditunggangi dan dilatih. Dibandingkan teman-temannya yang berlatih melumpuhkan Naga dengan melawan, Hiccup berhasil melumpuhkan naga dengan mengajak bermain seperti yang ia pelajari dari Toothless. Dan Astrid Hofferson (America Ferrera), cewek yang semula populer karena paling jago menghadapi naga, iri dan curiga pada Hiccup yang tiba-tiba menggantikan posisinya. Astrid kemudian diam-diam mengikuti Hiccup, dan mengetahui keberadaan Toothless sebagai peliharaannya. Walau awalnya takut, tapi Astrid akhirnya mengerti bahwa naga memang dapat menjadi teman, tidak seperti yang mereka kira sebelumnya.

Segalanya kacau saat keberadaan Toothless sebagai peliharaan Hiccup diketahui oleh seluruh penduduk desa, termasuk ayahnya. Stoick pun marah besar, lalu memisahkan Hiccup dari Toothless dan menggunakan Toothless untuk mencari sarang naga dan hendak menghancurkannya bersama para penduduk desa. Tapi ternyata Stoick salah langkah, karena naga yang hendak mereka hadapi adalah naga raksasa yang terlalu kuat untuk dilawan oleh manusia. Hiccup dengan dorongan semangat dari Astrid dan teman-teman yang lain pun menyusul dan membantu melawan dengan menunggangi naga-naga yang biasa mereka hadapi untuk berlatih. Akhirnya, dengan mempertaruhkan nyawa, Hiccup dan Toothless berhasil mengalahkan sang naga raksasa dan membuktikan kuatnya persahabatan mereka…

Adegan yang paling saya sukai adalah saat Stoick mencari dan memanggil-manggil Hiccup di bawah hujan abu setelah naga raksasa berhasil dihancurkan. Abu yang pelan-pelan berhamburan jatuh terlihat sangat nyata dengan efek 3D. Emosi penonton juga dimainkan di sana, karena Stoick saat itu sangat merasa bersalah pada Putranya. Dan rasanya lega saat mengetahui hiccup selamat, karena dilindungi oleh Toothless pula. Happy end memang yang saya suka, meski tetap ada haru di sela-selanya.

Dan saat kebetulan adik saya ke Jakarta beberapa waktu kemudian, saya pun nonton sekali lagi sama adik saya. gak nyesel deh ^_^

Sumber gambar : imdb.com, blastmagazine.com

3 thoughts on “How to Train Your Dragon (2010)

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s