Posted in My Life

Antara Ibu Jari dan Jari Tengah

Dunia lapangan (katanya) adalah dunia pria. Berpanas-panas ria atau kadang bergerak cepat di bawah hujan gerimis, mengukur jalan yang dilalui untuk meng-estimasi panjang kabel yang dibutuhkan pada suatu proses pengembangan jaringan listrik dalam rangka permintaan pasang baru dan tambah daya oleh pelanggan, tidak lazim dilakukan oleh seorang perempuan.

Tapi itulah tugas saya sebagai Asisten Engineer Perencanaan Distribusi, turun ke lapangan serta membuat analisa sistem dan rencana anggaran biaya untuk para pelanggan berdaya besar. Dan karena saya masih junior di bidang ini, saya hanya menangani daya 41,5 kVA hingga 197 kVA. Untuk daya 200 kVA ke atas dan yang menyediakan lahan gardu, diserahkan pada Pak Suprapto yang lebih senior karena prosesnya lebih rumit.

Dan dengan kondisi lalu-lintas Jakarta yang semrawut, bisa dibilang saya paling banyak menghabiskan waktu di jalan. Hampir setiap hari saya mengisi formulir pinjam mobil dinas,untuk dipakai mendatangi lokasi pelanggan. Kadang dapat mobil avanza hitam polos atau hitam bergaris stiker merah-kuning-biru, kadang yang full tertutup stiker merah-kuning-biru (biasa disebut mobil nano-nano).
Hoo… tapi jangan dikira saya nyetir sendiri. Saya pernah satu kali belajar nyetir waktu umur 12 tahun, tapi setelah itu belum pernah dan belum terpikir untuk nyoba lagi. Bahkan mengendarai sepeda motor pun saya belum bisa, masih perlu dilatih, bisanya cuma bawa sepeda kayuh aja. So, dalam pekerjaan survey dan membuat analisa sistem ini, saya punya seorang partner. Ian Namanya, pegawai outsourcing yang super aktif dan lebih berpengalaman di bidang perencanaan. Jadi saat survey ke lokasi pelanggan, Ian yang bertugas nyetir, saya cuma duduk manis di mobil😀.
Sepanjang jalan, seperti biasa saya banyak diemnya. Ian yang sering buka obrolan dengan cerita tentang banyak hal. Keluarganya ; ayahnya, almarhumah ibunya, istrinya yang sedang hamil, Aisyah anak perempuannya yang baru berumur 1 tahun, mertuanya, saudaranya, teman-teman di lingkungan rumahnya, teman-teman dan atasan di lingkungan kerja, semua dia ceritakan. Dan terkadang saya juga terpancing untuk cerita tentang pengalaman saya, keluarga, atau sekadar membahas sesuatu.
Kalau bosan, Ian biasanya menyalakan radio. Yang paling sering didenger kayaknya Ronal Tike di Jak FM. Terus terang saya juga suka dengerin ‘Tawco (Tawaran Ngaco)’, setipe dengan ‘Salah Sambung’ di Gen FM, acara ngerjain orang yang memang jail abis. Lagu yang ditunggu Ian dan biasanya volume langsug digedein pas lagu itu diputer ya ‘Love The Way You Lie’-nya Eminem feat Rihanna. Tapi kayaknya popularitas lagu itu udah turun ya, soalnya akhir-akhir ini sudah gak pernah terdengar lagi.

Soal cara bawa mobil, Ian jelas terampil. Orang bilang kan siapa pun yang bisa nyetir di Jakarta, sudah pasti teruji keterampilannya😀. Kadang-kadang Ian nyari celah juga supaya lebih lancar di perjalanan, tapi cuma sesekali dan masih wajar menurut saya. Tapi yang saya salut, dia cukup sabar dan selalu ngasih jalan kendaraan lain yang mau lewat di depan kami karena mau belok, misalnya. Pernah ada pasangan lansia keturunan tionghoa yang naik mobil sedan dikasih jalan sama Ian waktu agak macet di persimpangan Jl.Mangga Raya. Nenek yang duduk di sebelah kakek yang nyetir itu sempat mengacungkan jempol ke arah kami.
Sayangnya memang gak semua orang di jalan itu ramah dan sopan ya. Hari lain, di Jl.Merdeka Barat pas di tempat muter balik di depan museum Nasional, ada sepeda motor yang tiba-tiba motong di depan mobil kami karena mau muter balik. Ian pun ngerem mendadak, dan dengan kagetnya kami menatap orang-orang yang naik motor itu saat mobil kami berhenti. Dua orang pemuda tanggung, dan salah satunya yang dibonceng balas menatap kami dengan marahnya. Kami pun semakin menatap karena heran, lah dia yang mendadak motong kok dia yang marah ya? lagian motornya kena juga nggak… sampai sekilas saat motor itu menuju arah yang berlawanan, saya lihat si pemuda yang dibonceng mengacungkan jari tengahnya. Astaghfirullah… seumur-umur baru sekali itu saya digituin sama orang.
Tapi ya… bertemu macam-macam orang memang salah satu dinamika di lapangan yang akan terus dialami, dan harus siap saya hadapi.

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s